Minggu, 21 Juni 2009


pentas musik tradisional dalam rangka 100 tahun hari kebangkitan nasional

Jumat, 19 Juni 2009

cermin

FILSAFAT SEKEPING CERMIN



Di sekitar kehidupan manusia penuh dengan cermin katakanlah itu cermin kehidupan , kita dapat melihat bagaimana seekor burung pipit, dikala surya pagi merekah di timur dengan perut yang kosong terus tentang mencari makanan pengisi perutnya hari itu dan kembali disenja hari setelah perutnya berisi. Ini sebuah cermin tentang keuletang dan kepercayaan diri dalam menantang hidup.
Kita lihat lagi bagaimana tata karma kehidupan masyarakat semut yang setiap perjumpaannya dengan kawannya dimulai demgan salam menyampaikan apa yang diperolehnya sendiri. Kadangkala semut yang kecil itu bermain-main mengantar kesarangnya sepotong kaki ayam, hal ini juga sebuah cermin.
Coba kita perhatikan pula kaki manusia yang diayun secara bergantian, juga sebuah cermin, ataukah mawar merah dan melati putih yang mekar semerbak mengharum, dipuja, disanjung,dikagumi, kemudian layu, dibuang dan dilupakan orang, ini juga kita katakan sebuah cermin.
Begitu banyak cermin disekeliling kita sehingga seorang ahli hikmah pernah manulis “KALAU INGIN MAJU BERCERMINLAH” Indonesia merdeka karena pendiri republic ini bercermin pada yang dilihat, apa yang didengar………dan apa yang dirasakan. Kita tentu masih ingat bagaimana Chairil Anwar menyatakan cintanya kepada Tanah Airnya diungkap dengan kalimat puisi

“ Dengan cerrminpun daku enggan berbagi “

Dengan banyak cermin yang seyogyanya kita jadikan bahan renungan mengisi lembaran kehidupan pada usia yang masih terasa di perlaluan ini. Kali ini dengarkan falsafah sekeping cermin. Manusia, apakah pria, apakah wanita, yang muda berhati muda atau yang tua sekalipun, paling akrab dengan cermin. Begitu akrabnya manusia dengan cermin sehingga tidak jarang terjadi seorang bapak yang akan ke kantor terlebih dahulu berpamitan didepan cermin sebelum pamit pada isterinya sendiri, ataukah seorang wanita yang akan ke pesta dengan berjam-jam duduk di depan cermin. Apalagi mereka yang berusia muda, gadis yang jolong bersubang, pamuda jolong berkeris, sekarang anggaplah diri anda berdiri dimuka cermin, apa gerangan falsafah sang cermin yang diamanatkan kepada kita.
Bila anda tergolong pria masa kini yang cakap dan ganteng maka berkatalah sang cermin
“ wahai tuan, daku mengharap semoga keindahan raga dan lahirmu seindah dengan tingkah laku perbuatanmu “

Akan halnya yang bermuka bopeng atau mungkin berketombe, maka sang cerminpun dengan nadamerayu penuh harap berkata
“ wahai tuan permata hatiku, sejelek-jelek tampanmu saya doakan semoga tidak sejelek tutur katamu, ayun langkah tindakanmu berangkatlah semoga Tuhan merahmatinu…..”
Semoga falsafah sekeping cermin ini menjadi sebagian dari pedoman kehidupan kita agar jangan terjadi kata pepatah

BURUK MUKA CERMIN DIBELAH